Jumat, 06 Desember 2013

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

A.      Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar (http://ebekunt.wordpress.com)Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.

Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa kesulitan belajar merupakansuatu kondisi dimana terdapat suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan yang diperoleh yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu baik bersifat psikologis, sosiologis maupun fisiologis dalam proses belajar.
Salah satu cara pemberian bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah berupa prosedur dan langkah-langkah yang sistematis yang disebutDiagnosis Kesulitan Belajar dan pengajaran perbaikan.(Etty Kratikawati dan Willem Lusikooy; 1993/1994).
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai berikut (Ebekunt:2009,http://ebekunt.wordpress.com) :
1.      Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
2.     Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
3.      Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Dari penjelasan di atas, dapat penulis buat suatu kesimpulan bahwa Diagnosis Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

B.       Gejala dan Ciri Kesulitan Belajar
1.    Gejala Kesulitan Belajar
Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009, http://ebekunt.wordpress.com), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a.    Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
b.    Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.    Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.   Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.    Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.     Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.    Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.
Sedang Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwaKesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku. Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat dalam berkomunikasi.
Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar, yaitu:
1.   Hasil belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2.   Individu lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3.   Menunjukkan sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah tersinggung dan menyendiri.

2.    Ciri Kesulitan Belajar
Adapun ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
a.   Gangguan persepsi visual:
1)  Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik dalam menuliskan kembali
2)  Sering tertinggal huruf dalam menulis
3)  Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4)  Sulit memahami kanan dan kiri
5)  Bingung membedakan antara obyek dengan latar belakang
6)  Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki, dan lain-lain)
b.   Gangguan persepsi auditori
1)  Sulit membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2)  Sulit memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan kalimat yang panjang
3)  Bingung dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
c.   Gangguan bahasa
1)  Sulit menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2)  Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
d.   Gangguan persepsi –motorik
1)  Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong, dll )
2)  Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
e.   Hiperaktivitas
1)  Sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
2)  Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3)  Impulsif
f.    Kacau (distractibility)
1)  Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2)  Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3)  Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
a.   Dilihat dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang tertinggal atau tidak lengkap.
b.   Dilihat dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang disampaikan oleh guru.
c.   Dilihat dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.

C.      Latar Belakang Timbulnya Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan (Ebekunt; 2009,  http://ebekunt.wordpress.com):
1.   Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
a.   Faktor kejiwaan, antara lain :
1)      Minat terhadap mata pelajaran kurang;
2)      Motif belajar rendah;
3)      Rasa percaya diri kurang;
4)      Disiplin pribadi rendah;
5)      Sering meremehkan persoalan;
6)      Sering mengalami konflik psikis;
7)      Integritas kepribadian lemah.
b.   Faktor kejasmanian, antara lain :
1)      Keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
2)      Adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
3)      Adanya gangguan pada fungsi indera;
4)      Kelelahan secara fisik.
2.   Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar peserta didik. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
a.   Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :
1)      Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
2)      Kurikulum yang terlalu berat bagi pesert didik;
3)      Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
4)      Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
b.   Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
1)      Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
2)      Lingkungan sosial sekolah yang tidak kondusif
3)      Teman-teman bergaul yang tidak baik;
4)      Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

D.      Tujuan Pelaksanaan Kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar
Ramdhani (http://feyra-gokil.blogspot.com) menjelaskan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan mempunyai tujuan yang baik yang ingin dicapai, dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, begitu pula dengan kegiatan ini. Pelaksanaan kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar melibatkan guru dan siswa, maka tujuan yang ingin dicapai juga berbeda antara guru dan siswa.
1.   Siswa
Tujuan yang hendak dicapai setelah pelaksanaan kegiatan diagnosis kesulitan belajar ini bagi siswa adalah :
a.   Siswa memahami dan mengetahui kekeliruannya.
b.   Siswa memperbaiki kesalahannya
c.   Siswa dapat memilih cara atau metode untuk memperbaiki kesalahannya
d.   Siswa dapat menguasai pelajaran dengan baik.
e.   Siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
2.   Guru
Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar bagi Guru adalah :
a.   Guru mengetahui kelemahan dalam proses belajar –mengajar.
b.   Guru dapat memperbaiki kelemahannya tersebut.
c.   Guru dapat memberikan layanan yang optimal kepada siswa sesuai dengan keadaan diri siswa perkembangannya siswa dapat terlaksana dengan baik.
   
E.       Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar yang Dialami Siswa
Menurut Hallen A: 2005 (Mayasa: 2012, http://m4y-a5a.blogspot.com), langkah-langkah yang perlu ditempuh guru untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, dapat dilakukan dalam enam tahap. Adapun keenam tahap tersebut, yaitu:
1.   Mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar
Cara yang paling mudah untuk mengenali siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan cara mengenali nama siswa.
2.   Memaham sifat dan jenis kesulitan belajarnya
Langkah kedua dalam mengatasi kesulitan belajar adalah mencari dalam mata pelajaran apa saja siswa ini (kasus) mengalami kesulitan dalam belajar.
3.   Menetapkan latar belakang kesulitan belajar
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar baik yang terletak di dalam diri siswa sendiri maupun diluar dirinya.
4.   Menetapkan usaha-usaha bantuan
Setelah diketahui sifat dan jenis kesulitan serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang akan di peroleh.
5.   Pelaksanaan bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan diaksanakan secara terus-menerus dan terah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang telah diperkirakan.
6.   Tindak lanjut
Tujuan langkah ini untuk menilai sampai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus-menerus, dengan langkah ini dapat diketahui keberhasilan usaha bantuan.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Etty Kartikawati dan Willem Lusikooy. 1993/1994. Materi Pokok; Profesi Keguruan PGSM3904/2SKS Modul 1-6. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Roy Ihsan. 2011. Persepsi Peserta Didik Tentang Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler Bagi Pengembangan Diri Di MTS Darul Ulum Kiawai Kab. Pasaman Barat (SKRIPSI).Padang; BK STKIP PGRI.
Puspita Sari. 2012. Pendapat Peserta Didik Terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Pengembangan Diri Di SMP Negeri 28 Padang (SKRIPSI). Padang; BK STKIP PGRI.
Gebrielleizious. 2011. Diagnosis Kesulitan Belajarhttp://gebriellucifer.blogspot.com. Minggu, 14 Agustus 2011
Ebekunt. 2009. Diagnosis Kesulitan Belajarhttp://ebekunt.wordpress.com. 12 April 2009.
Abu Daud. 2011. Kesulitan Belajar. http://abudaud2010.blogspot.com. Sabtu, 29 Januari 2011.
Mutiara Endah. 2010. Ciri-Ciri Kesulitan Belajarhttp://mutiaraendah.wordpress.com. 10 Januari 2010.
Ramdhani. 2011. Tujuan Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Hasil Belajarhttp://feyra-gokil.blogspot.com. Juli 2011. Jam 10:21 WIB.
Mayasa. 2012. Langkah-Langkah Mengatasi Kesulitan Belajar. http://m4y-a5a.blogspot.com. Juni 2012. Jam 00:30 WIB.